HIDUPLAH DALAM TUNTUNAN FIRMAN TUHAN

HIDUPLAH DALAM TUNTUNAN FIRMAN TUHAN
Tanah Lot - Bali

Mazmur 128: 1-3

Berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan,
yang hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya


Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu

Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu,
anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu

21 May 2021

SETIA DAN TULUS

 

Setia dan Tulus merupakan salah satu unsur utama dari bangunan rohani kita... jika diibaratkan dengan bangunan gedung yang megah, Kesetiaan dan Ketulusan dapat dipersamakan dengan campuran Semen, Pasir dan air dalam takaran tepat yang berfungsi mengikat batu dan besi, serta menutupi segala kekosongan menjadi satu bangunan yang kuat dan megah. Memang Setia dan Tulus tidak dikatakan sebagai salah satu tiang utama bangunan rohani (1 Kor 13:13 .. yaitu Iman, Pengharapan dan Kasih ....)
namun ketiga tiang utama ini didirikan dan ditegakkan menggunakan unsur Kesetiaan dan Ketulusan.


 
Ciri dari kesetiaan dan ketulusan yang harus terlihat nyata adalah:
  1. Waspada. Sikap kewaspadaan  atau siap sedia secara terus menerus (kontinuitas). Yesus mengingatkan semua kita muridNya dalam Luk 12:35 "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala" artinya tetap siap siaga, tetap awas dan sadar, tidak boleh lengah apalagi tertidur.
  2. Taat/Loyal. Sikap Taat dalam kehidupan rohani digambarkan dengan teguh hati  menjadikan kita tidak mudah dipengaruhi dan mengganti idola hati kita. Ciri ini wajib ada dan harus terlihat sepanjang kehidupan terutama pada saat menghadapi pergumulan berat. Yesus mengingatkan adanya beban berat penyiksaan, penyesatan oleh nabi palsu peperangan dan kesesakan lainnya, dan Firmannya pada Matius 24:13 "Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat". Contoh keteguhan hati / ketaatan disaksikan Rasul Pulus dalam Filipi 2: 8 "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib"
  3. Murni. Kemurnian dari kesetiaan dan ketulusan dalam bangunan rohani sebenarnya ada dalam hati, jiwa dan roh seseorang. Kemurnian itu sendiri berwujut kebenaran, Kejujuran, kesungguh-sungguhan, tanpa kepalsuan dan tanpa maksud jahat. Rasul Petrus memberikan bukti-bukti kemurnian iman, pengharapan dan kasih yang dia miliki dihadapan Felix Walikota Jerusalem dan membela dirinya dalam Kis 24: 16 "Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni dihadapan Allah dan Manusia". ingat..pada saat kita berpura pura berbuat baik karena keinginan memperoleh upah duniawi, walau berhasil mendapatkan yang diinginkan, hati kita akan tertuduh dan menyesal, karena kita sendiri mencemari pelayanan kita, kita bukan orang yang tulus.
  4. Bertanggungjawab. Sikap hidup Berani Tanggung Resiko, berani berkorban, tidak ingkar janji, tidak memberi harapan palsu tetapi menganggap janji adalah hutang yang harus dibayar. Bertanggungjawab adalah ciri dari Setia dan Tulus yang harus ada pada setiap anak Tuhan. Melaksanakan tuntas pekerjaan yang dijanjikan sekalipun menanggung kerugian. Yesus berfirman dalam Matius 10:38 "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut aku dia tidak layak bagiKu"
Kesimpulan : Bangunan Rohani yang dibangun dengan Kesetiaan dan Ketulusan mendirikan pilar Iman, Pengharapan dan Kasih akan Kuat dan Megah dan tahan uji. Tanpa Kesetiaan dan Ketulusan bangunan Rohani kita ibarat Patung yang ada di mimpi Raja Nebukadnezar berkepala emas tua, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, pahanya dari besi sedangkan kakinya sebahagian dari besi dan sebahagian dari tanah liat.



22 January 2010

PESTA RUMAH BARU




Dalam masyarakat Karo (salah satu suku di Sumatera Utara), ada beberapa pesta budaya/pesta adat  yang disebut "Kerja Adat". Salah satu diantara pesta budaya yang sifatnya meriah (sukacita) adalah Pesta Memasuki Rumah Baru, yang dikenal dengan sebutan Mengket Rumah. Pesta ini tergolong sebagai pesta sukacita dan mulia karena pesta ini  menggambarkan kesuksesan tuan rumah (penyelenggara pesta). Setiap orang karo (keluarga karo), hanya satu kali saja menyelenggarakan pesta adat Mengket Rumah. Walaupun yang bersangkutan sanggup mendirikan lebih dari satu rumah, namun pesta memasuki rumah baru yang disebut "Mengket Rumah" hanya sekali dilaksanakan, sedangkan untuk rumah-rumah yang lainnya, dilaksanakan pesta yang disebut Sumalin jabu, (salah satu bentuk pesta memasuki  Rumah Baru tanpa pelaksanaan tatacara peradatan Lengkap) ataupun mungkin hanya dalam bentuk syukuran saja.



Biasanya Kerja Mengket Rumah Mbaru diawali pagi hari, dengan ibadah keagamaan sekaligus sebagai upacara pembuka. Kegiatan ini dilanjutkan dengan makan pisang emas dan cimpa (makanan khas masyarakat karo, berupa kue dari tepung beras ketan dan gula aren). Acara selanjutnya adalah sarapan dengan menu nasi + ikan mas arsik. Setelah sarapan, sang tuan rumah dan seluruh keluarganya mengenakan pakaian pesta. Dalam pesta budaya, Mengket_Rumah, sang tuan rumah mengenakan pakaian budaya  tradisional karo, (disebut Rose Lengkap Remas emas) yaitu pakaian yang paling agung dan mulia dalam kehidupan masyarakat Karo. Pakaian seperti ini,dapat dikenakan hanya dua kali oleh setiap orang karo, yakni pertama pada saat yang bersangkutan sebagai pengantin dan yang kedua pada saat Pesta Mengket  Rumah.
 

 

Apabila perkawinan masyarakat karo, tidak dijalankan Pesta Adat  Karo, maka pengantin tidak mengenakan pakaian budaya lengkap (tidak rose lengkap). Namun pada saat orang tersebut mampu membangun rumahnya dan menyelenggarakan pesta Mengket Rumah, dia berkesempatan mengenakan Pakaian Budaya Lengkap. Biasanya  pelaksanaan  Pesta  masuk rumah  seperti ini dipadukan dengan penyelesaian adat perkawinannya (disebut Ndungi Adat  Perjabun). Bagi orang karo yang tidak menggunakan kesempatan kedua berpakaian Adat Lengkap (pada saat masuk rumah baru), maka tidak ada lagi kesempatan lain berpakaian seperti ini dalam pesta adat.
 


Dalam acara adat Mengket Rumah Mbaru, ada 3 kelompok kalimbubu (kelompok kerabat yang dihormati berdasarkan status peradatan) yang menjadi pemeran utama jalannya acara peradatan, yaitu Kalimbubu Simajek Dalikan, Kalimbubu Singose'i dan Kalimbubu Sierkimbang. Biasanya dalam semua pesta di masyarakat karo, kalimbubu ini adalah golongan yang dilayani dan pihak yang menerima pembayaran utang adat, namun dalam pesta Mengket Rumah Mbaru,  ketiga kelompok Kalimbubu ini secara peradatan memiliki hutang dalam bentuk  kado (Utang luah Adat), yang sudah baku, dalam adat karo, sebagai berikut:;

1. Kalimbubu Simajek Dalikan, adalah Kalimbubu Tua (Kalimbubu dari Kakek) dan Kalimbubu Bena-bena (kalimbubu dari Ayah) sang tuan rumah.





Kalimbubu Simajek Dalikan, akan membawa Ayam berwarna kuning dan Beras piher (beras berkat). Dalam pelaksanaannya, kalimbubu ini, akan mendirikan tungku, menyalakan api dan menyembelih ayam yang dibawanya, sebagai simbol  bahwa kalimbubu tersebut  memberkati anakberunya sang tuan rumah, agar dalam menempati rumah yang baru, hidup dalam berkecukupan. Selanjutnya ayam dan beras, dimasak khusus menjadi makan siang sang tuan rumah. Pelaksanaan acara ini dilakukan sesaat setelah Kebaktian Buka Kunci selesai sebelum acara makan pisang dan cimpa.

Selain Luah Adat (kado yang digariskan peradatan), Kalimbubu ini juga dapat membawa kado / luah lain yang disebut kado/luah pribadi seperti tikar pandan,selimut, sprey, alat dapur dan lain sebagainya yang akan diserahkannya pada saat acara  kalimbubu.


2. Kalimbubu Singosei adalah saudara laki-laki dari ibu (paman) dari tuan rumah yang berpesta. Kelompok kalimbubu ini dalam Pesta Perkawinan, disebut "Kalimbubu Singalo Ulu Emas" dan dalam Duka Cita, dia disebut Simada Dareh.




Kalimbubu singosei, akan membawa satu helai kain adat Beka Buluh, yang akan dijadikan mahkota (Bulang) sang tuan rumah. Dalam pelaksanaannya, kalimbubu ini akan memasangkan mahkota yang dibentuknya dari kain adat beka buluh tersebut ke kepala sang tuan rumah. Pelaksanaan  pemberian mahkota adat ini  dikenal dengan istilah "Ngampeken Bulang-bulang"

Acara ngampeken bulang-bulang ini dilaksanakan dalan kegiatan rose  (mengenakan pakaian peradatan) sesaat setelah selesai ngukati (saparan).

Selain luah adat uis beka buluh, kalimbubu ini pun masih dapat membawa kaldo/luah pribadi sama seperti kalimbubu lain berupa tikar, bantal, selimut, peralatan rumahtangga dan sebagainya yang diserahkannya pada saat acara adat untuk kalimbubu.
 

3. Kalimbubu Sierkimbang, adalah orangtua dan saudara laki-laki dari isteri sang tuan rumah. Dalam Pesta Perkawinan, kalimbubu ini disebut Sukut Sinereh, sedangkan dalam Duka Cita, kalimbubu ini disebut Kalimbubu Siperdemui. Kalimbubu sierkimbang membawa Tikar Pandan yang dikenal dengan sebutan Amak Kundulen/Amak Tayangen. Dalam pelaksanaannya, Kalimbubu yang membawa tikar pandan ini akan masuk ke rumah  mendahului sang tuan rumah  pada saat acara pembukaan kunci, lalu membentangkan tikar yang dibawanya didalam rumah yang baru, untuk tempat duduk sang tuan rumah, beserta isteri dan anak-anaknya.

 




Anakberu (kelompok kerabat yang bertanggungjawab melaksanakan pekerjaan  kalimbubu) juga punya  hutang adat dalam pesta Mengket Rumah, yaitu:  

1. Anakberu Tua, yaitu anak beru dari kakek sang tuan rumah akan membawa alat dapur yang dibuat dari kayu/bambu dan batu, seperti centong nasi, ukat (sendok nasi dari bambu), gilingan cabe dll.

2. Anakberu Dareh, yaitu saudara perempuan dari ayah (bibi) sang tuan rumah, demikian semua anak laki-laki dari bibi tersebut adalah anakberu dareh. Kelompok anakberu ini sering digelari Cekuh Baka  akan membawa peralatan masak dan makan, yaitu lampu minyak, priuk, kuali, sendok-garpu, piring, mangkok cuci tangan.

3. Anakberu Iangkip, yaitu kelompok anakberu karena hubungan perkawinan dari saudara perempuan sang tuan rumah, bertugas membawa, perlengkapan pesta bahagian luar, yaitu : lambe-lambe (janur kuning dari daun enau), membuat teratak tempat pertemuan, pentas, hiasan dll.  


Acara peradatan dalam Mengket Rumah biasanya disusun oleh Anak Beru dalam bentuk tata urutan kegiatan yang dalam pelaksanaannya dipandu oleh salah satu dari anakberu tersebut yang ditunjuk sebagai protokol acara.

Materi utama dari acara adat selain penyerahan kado/luah adat, adalah Acara Ngerana yakni memberikan petuah kepada sang penyelenggara pesta.Dalam acara ini Pihak Sukut (tuan rumah beserta saudara-saudaranya) menyampaiakan ucapan salam kepada semua tamunya, dan pihak saudara menyampaikan ucapan selamat kepada tuan rumah. Pihak Kalimbubu akan menyampaikan pesan, nasehat dan berkat kepada anakberunya (tuan rumah) secara bergantian sesuai dengan kelompok kalimbubunya (kalimbubu Simajek Dalikan, Kalimbubu  Singosei dan Kalimbubu Sierkimbang). Pihak anak beru mengucapkan selamat dan pesan-pesan kepada kalimbubunya yang menjadi sukut/tuan rumah.

Selanjutnya dalam acara Makan Siang, sang tuan rumah diberikan makanan paling istimewa seumur hidupnya yakni makan satu piring dengan seisi keluarganya (bersama isteri dan anak-anaknya) pada piring besar yang diisi dengan nasi penuh dan lauk ayam yang dibawa kalimbubu simajek dalikan.


Demikian agung dan mulia setiap orang karo yang menyelenggarakan Kerja Mengket Rumah, dia mendapatkan kehormatan dari semua pihak baik dari anakberu, senina maupun dari kalimbubunya. Namun saat ini tidak banyak masyarakat karo yang mengerti  tatacara pelaksanaan perta adat ini sehingga maknanya menjadi pudar. Seyogianya setiap masyarakat Karo sejak muda sudah diberikan pemahaman tentang adat dan budayanya sehingga setelah dewasa dapat memahami apa yang patut diperbuatnya berkaitan dengan adat istiadatnya.
 

11 July 2008

Kolam Air Panas Alam Lau Debuk-debuk

Kolam air panas alam Lau Debuk-debuk terdapat di Desa Doulu Kecamatan Berastagi. Lokasi ini merupakan salah satu Obyek Wisata yang diminati pengunjung lokal dan mudah dicapai. Terletak tidak jauh dari jalan utama yang menghubungkan Medan – Berastagi tepatnya di KM 55 dan dapat dicapai dengan bus sedang.

Obyek wisata ini memiliki luas 7 ha yang dilengkapi dengan arena parkir, shelter dan kamar mandi. Kolam air panas alam ini memiliki suhu sekitar 40 derajat celcius dan mengandung belerang sekitar 16 persen. Dulunya lokasi ini merupakan kolam yang terbentuk oleh proses alami, namun untuk kenyamanan dan kepuasan pengunjung, saat ini pemerintah telah membuat kolam dari semen.

Dilokasi ini juga banyak terdapat fasilitas ritual penyembahan menurut kepercayaan perbegu (animisme) karena memang Lau Debuk-debuk dari dahulu digunakan oleh masyarakat sebagai tempat erpangir yaitu salah satu upacara ritual untuk membersihkan diri dari pengaruh roh jahat atau penyakit yang disebabkan kekuatan mistik.

Tidak jauh dari lokasi ini terdapat pemandian air panas alam yang telah dikelola dengan lebih baik oleh masyarakat setempat. Kolam pemandian air panas alam milik masyarakat ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas.

Salah satu pengelolaan sarana pemandian air panas alam yang cukup baik adalah Pemandian Rindu Alam milik pak Prayatna Surbakti yang terdapat di Desa Semangat Gunung. Pemandian rindu Alam memiliki fasilitas parkir yang luas, sarana akomodasi, kantin, ruang pertemuan dan juga alat angkutan bus sedang yang dapat disewa oleh tamu.

18 June 2008

BENTUK, TUJUAN DAN PERSYARATAN PERJALANAN WISATA

Sehubungan dengan tingkat kesibukan manusia dalam kehidupan sehari-hari, pariwisata atau berwisata sudah merupakan kebutuhan untuk pemulihan kesegaran jasmani dan rohani. Seseorang/sekelompok orang yang membutuhkan permulihan kesegaran jasmani dan rohani dan memiliki minat untuk melakukan perjalanan wisata disebut Wisatawan Potensial. Wisatawan potensial yang berminat melakukan perjalanan wisata harus memenuhi persyaratan pokok sebagai berikut:
  • Memiliki waktu luang yang cukup
  • Memiliki uang/dana yang cukup
  • Memiliki kesehatan yang cukup
  • Memnuhi aspek legalitas
Apabila sesorang/selekompok orang wisatawan potensial telah memenuhi persyaratan dasar dan mengambil keputusan untuk berwisata maka selanjutnya dia membuat perencanaan perjalanannya atau membeli paket wisata yang telah disusun oleh Biro Perjalanan Wisata. Dengan adanya rencana perjalanan, maka seorang atau sekelompok Wisatawan Potensial tadi menjadi Calon Wisatawan Rencana Perjalanan Wisata biasanya memuat:
  • Lokasi Obyek dan Dayatarik Wisata atau Daerah Kunjungan Wisata yang dituju.
  • Lamanya kegiatan wisata yang dilakukan sejak keberangkatan sampai dengan kembali ke rumah
  • Sarana apa saja yang digunakan (transportasi, akomodasi, makan-minum, peralatan dan sebagainya.
Minat melakukan kunjungan wisata sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu :
  1. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari diri calon wisatawan itu sendiri misalnya keadaan sosial ekonominya (tingkat kemakmurannya), nilai budaya dan agama yang diyakini, tingkat pendidikan, hobi dan lainnya.
  2. Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri calon wisatawan misalnya adanya kebijakan pemerintah (baik yang bersifat mendorong atau yang bersifat menghalangi), situasi tempat tujuan, prilaku budaya masayarakat yang dituju dan lain sebagainya.
Dengan adanya pengaruh faktor internal dan faktor eksternal, maka seseorang menentukan keputusan perjalanan wisatanya meliputi: 1. Tujuan berwisata
  • Untuk Tujuan Bersenang-senang (Wisata Refreshing)
  • Untuk Tujuan Keagamaan (Wisata Religi)
  • Untuk Tujuan Penelitian dan Ilmu Pengetahuan (Discovery Tourism, Cultural Tourism, dll)
  • Untuk Tujuan Berolahraga (Golf, Hunting, Fishing, Berkuda, Balapan dll)
  • Untuk Tujuan Kesehatan / Berobat (Health Tourism)
  • Untuk Tujuan Bisnis / Pengembangan Usaha dan Meeting, Incentive, Convention & Exebhition (MICE)
  • Untuk Tujuan Minat Khusus (Menyelam, Arung Jeram, Sky, Fly dll)
2. Sasaran ODTW atau daerah yang mau dikunjungi 3. Sarana dan jasa yang dipergunakan 4. Lamanya melakukan kegiatan wisata Dalam melakukan perjalanan wisata, calon wisatawan dapat memilih bentuk-bentuk perjalanan wisata yang diklasifikasi sebagai berikut : A. Berdasarkan Perencanaannya
  • Organized Traveling yaitu perjalanan terprogram dan terorganisir dengan baik oleh Biro Perjalanan. Pada bentuk ini wisatawan mengikuti program yang telah dubuat berupa paket wisata dan tidak dimungkinkan melakukan perubahan.
  • Unorganized Traveling adalah perjalanan yang tidak terprogram secara kaku dan masih memungkinkan melakukan perubahan dalam hal waktu perjalanan, tujuan perjalanan, sarana yang digunakan.
B. Berdasarkan jumlah Orang
  • Singular atau Pair Traveling yaitu perjalanan sendirian atau berduaan
  • Group Tour yaitu perjalanan rombongan (lebih dari 2 orang)

C. Berdasarkan Arah Perjalanan
  • In bound tour yaitu perjalanan dari luar negeri ke dalam negeri
  • Out bound tour yaitu perjalanan dari dalam negeri ke luar negeri
  • Intra boud tour yaitu inbound/outbound ditambah perjalanan antar negara bagian atau antar provinsi